Bahasa sering di jumpai pada buku novel,

Bahasa merupakan peranan yang penting dalam
kehidupan manusia, karena bahasa merupakan alat berkomunikasi dalam kehidupan
sehari-hari, baik secara lisan maupun tulisan. Di dalam bahasa juga terdapat
bentuk kata ulang. Kata ulang sering di jumpai pada buku novel, puisi, dan sebagainya.
Penggunaan kata ulang adalah sebagai bentuk variasi dalam suatu kalimat.

Kata ulang menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kata yang terjadi sebagai hasil
reduplikasi. Reduplikasi adalah proses atau hasil perulangan kata atau unsur
kata. Chaer menjelaskan dalam bahasa Indonesia reduplikasi merupakan mekanisme
yang penting dalam pembentukan kata, di samping afiksasi, komposisi dan
akronimisasi (Chaer 2008, 178). Kata ulang dapat
diartikan secara langsung sebagai kata yang mengalami proses pengulangan kata.
Kata ulang memiliki bentuk dasar yang diulang, ada yang diulang sebagain
ataupun diulang secara penuh. Kata ulang harus ditulis dengan lengkap
menggunakan tanda hubung (Dosen 2017, 29).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Berdasarkan
uraian di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang
penggunaan kata ulang. Alasan penulis melakukan penelitian ini yaitu, penulis ingin
mengetahui lebih dalam tentang penggunaan kata ulang yang terdapat pada puisi
“Ada yang Tertinggal di Belakangmu”, “Osmosis”, dan “Risalah Hujan”. Maka pada
penelitian ini penulis akan mengangkat judul: Penggunaan Kata Ulang pada Puisi “Ada yang Tertinggal di Belakangmu”,
“Osmosis”, dan “Risalah Hujan”.

1.1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang sudah
dikemukakan di atas maka penulis merumuskan masalah yaitu bagaimana penggunaan bentuk
kata ulang pada puisi “Ada yang Tertinggal di Belakangmu”, “Osmosis”, dan
“Risalah Hujan”?

1.2. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui penggunaan bentuk kata ulang pada puisi “Ada yang Tertinggal di
Belakangmu”, “Osmosis”, dan “Risalah Hujan”.

1.3.
Manfaat

Manfaat dari penelitian ini antara lain:

1.     
Manfaat Teoritis

a.       Hasil
penelitian ini diharapkan menambah ilmu pengetahuan tentang bentuk-bentuk kata
ulang.

2.     
Manfaat Praktis

a.       Diharapkan
dapat menjadikan sebagai bahan pembelajaran, khususnya pembelajaran bahasa dan
sastra.

b.      Dapat
dijadikan sebagai pengetahuan baru tentang penggunaan kata ulang di puisi
lainnya.

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA

 

2.1.  Konsep Reduplikasi

Proses
pengulangan kata dasar, proses atau hasil perulangan kata atau unsur kata baik
keseluruhan maupun sebagain disebut dengan reduplikasi (Yendra 2016, 126). Penggunaan kata
ulang adalah sebagai bentuk variasi dalam suatu kalimat. Bentuk kata ulang atau
reduplikasi sebagai bagian morfologi bahasa Indonesia baku, ditulis dengan
jelas dan tetap sesuai dengan fungsi dan tempatnya di dalam kalimat (Hidayah
2016, 35).

Kata
ulang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kata yang terjadi sebagai
hasil reduplikasi. Reduplikasi adalah proses atau hasil perulangan kata atau
unsur kata. Proses pengulangan atau reduplikasi adalah peristiwa pembentukan
kata dengan cara mengulang bentuk dasar, baik seluruhnya maupun sebagian, baik
bervariasi fonem maupun tidak, baik berkombinasi dengan afiks maupun tidak (Muslich
1990, 48).

Berdasarkan
beberapa definisi tersebut, maka kata ulang atau reduplikasi adalah proses atau
hasil dari perulangan kata atau unsur kata baik seluruhnya maupun sebagian,
baik bervariasi fonem ataupun tidak.

2.1.1.     
Jenis-jenis
Reduplikasi

Dalam buku Chaer (2008, 179) reduplikasi meliputi:

a.      
Reduplikasi Fonologis

Reduplikasi
berlangsung terhadap dasar yang bukan akar atau terhadap bentuk yang statusnya
lebih tinggi dari akar. Yang termasuk reduplikasi fonologis ini adalah
bentuk-bentuk seperti :

1)       
kuku,
dada, pipi, cincin, dan sisi.
Bentuk-bentuk tersebut ‘bukan’ berasal dari ku, da, pi, cin, dan si. Jadi,
bentuk-bentuk tersebut adalah sebuah kata yang bunyi kedua suku katanya sama.

2)       
foya-foya,
tubi-tubi, sema-sema, anai-anai, dan ani-ani. Bentuk-bentuk ini memang jelas
sebagai bentuk ulang, yang diulang secara utuh. Namun, ‘bentuk’ dasarnya tidak
berstatus sebagai akar yang mandiri. Dalam bahasa Indonesia kini tidak ada akar
foya, tubi, sema, anai, dan ani.

3)       
laba-laba,
kupu-kupu, paru-paru, onde-onde, dan rama-rama. Bentuk-bentuk ini juga jelas
sebagai bentuk ulang dan dasar yang diulang pun jelas ada, tetapi hasil
redupikasinya tidak melahirkan makna gramatikal. Hasil reduplikasinya hanya
menghasilkan makna leksikal.

4)       
mondar-mandir,
luntang-lantung, lunggang-langgang, kocar-kacir, dan
teka-teki. Bentuk-bentuk ini tidak
diketahui mana yang menjadi bentuk dasar pengulangannya. Sedangkan maknanya pun
hanyalah makna leksikal, bukan makna gramatikal. Dalam berbagai buku tata
bahasa tradisional, bentuk-bentuk ini disebut kata ulang semu.

b.      Reduplikasi
Sintaksis

Reduplikasi
sintaksis yaitu proses pengulangan terhadap sebuah dasar yang biasanya berupa
akar, tetapi menghasilkan satuan bahasa yang statusnya lebih tinggi daripada
sebuah kata. Contoh :

–         
suaminya benar-benar jantan

–         
jangan-jangan
kau
dekati pemuda itu

–         
jauh-jauh
sekali
negeri yang akan kita datangi

–         
panas-panas
memang
rasanya hatiku

–         
kata
beliau,
“tenang-tenang, jangan panik”

Bentuk-bentuk
reduplikasi sintaksis memiliki ikatan yang cukup konggar sehingga kedua
unsurnya memiliki potensi untuk dipisahkan. Contoh :

–         
jangan
kau
dekati pemuda itu, jangan

–         
panas
memang
panas rasa hatiku

–         
benar
suaminya
benar jantan

Reduplikasi
sintaksis ini memiliki makna ‘menegaskan’ atau ‘menguatkan’. Dalam hal ini
termasuk juga reduplikasi yang dilakukan terhadap sejumlah kata ganti orang
(pronominal persona) seperti :

–         
yang tidak datang ternyata dia-dia juga

–         
mereka-mereka
memang sengaja tidak di undang

–         
kita-kita
ini
memang termasuk orang yang tidak setuju dengan beliau

Reduplikasi
sintaksis termasuk juga yang dilakukan terhadap akar yang menyatakan waktu,
contoh :

–         
besok-besok
kamu
boleh datang ke sini

–         
dalam minggu-minggu ini kabarnya beliau akan datang

–         
hari-hari
menjelang
pilkada beliau tampak sibuk

c.       Reduplikasi
Semantis

Reduplikasi semantis
adalah pengulangan “makna” yang sama dari dua buah kata yang bersinonim.
Misalnya ilmu pengetahuan, alim ulama, dan
cerdik cendekia. Kata ilmu dan kata pengetahuan memiliki makna yang sama. Demikian juga kata cerdik dan kata cendekia.

Yang
termasuk ke dalam bentuk ini adalah bentuk-bentuk seperti segar-bugar, muda belia, tua renta, dan gelap gulita. Namun, bentuk-bentuk seperti ini dapat dimasukkan
dalam kelompok reduplikasi berubah bunyi. Memang bentuk segar bugar perubahan bentuk bunyinya masih bisa dikenali, tetapi
bentuk muda belia dan kering mersik tidak tampak sama sekali
bahwa unsur pertama berasal dari unsur kedua atau sebaliknya.

d.      Reduplikasi
Morfologis

Reduplikasi
morfologis ini dapat terjadi pada bentuk dasar yang berupa akar, berupa bentuk
berafiks dan berupa bentuk komposisi. Prosesnya dapat berupa pengulangan utuh,
pengulangan berubah bunyi, dan pengulangan sebagian.

1)      Pengulangan
Akar

Bentuk dasar yang berupa akar
memiliki tiga macam proses pengulangan, yaitu pengulangan utuh, pengulangan
sebagian, dan pengulangan dengan perubahan bunyi.

a)     
Pengulangan
Utuh,
artinya bentuk dasar itu di ulang tanpa melakukan perubahan bentuk fisik dari
akar itu. Misalnya, meja-meja (bentuk
dasar meja), kuning-kuning (bentuk
dasar kuning).

b)     
Pengulangan
Sebagian, artinya yang diulang dari bentuk dasar itu hanya
salah satu suku katanya saja (dalam hal ini suku awal kata) disertai dengan
“pelemahan” bunyi. Misalnya, leluhur
(bentuk dasar luhur), tetangga (bentuk
dasar tangga).

Perlu dicatat bentuk dasar dalam
perulangan sebagian ini dapat juga diulang secara utuh, tetapi dengan perbedaan
makna gramatikalnya. Bandingkan :

–                     
leluhur             à        luhur-luhur

–                     
tetangga          à        tangga-tangga

–                     
jejari                à        jari-jari

–                     
lelaki                à        laki-laki

–                     
peparu             à        paru-paru

c)     
Pengulangan
dengan perubahan bunyi, artinya bentuk dasar itu diulang
tetapi disertai dengan perubahan bunyi. Yang berubah yaitu bunyi vokalnya atau bunyi
konsonannya. Contoh pada kelompok (1) yang berubah unsur pertamanya dan contoh
kelompok (2) yang berubah unsur keduanya.

(1)   bolak-balik

larak-lirik

kelap-kelip

(2)   ramah-tamah

lauk-pauk

sayur-mayur

Bentuk-bentuk seperti mondar-mandir, teka-teki, dan luntang-lantung
memang tampak seperti reduplikasi dengan perubahan bunyi, namun bentuk-bentuk
ini tidak diketahui bentuk dasarnya maka bentuk-bentuk ini termasuk reduplikasi
fonologis.

d)     
Pengulangan
dengan infiks, maksudnya sebuah akar diulang tetapi
diberi infiks pada unsur ulangannya. Contoh:

–       turun-menurun

–       tali-temali

–       sinar-seminar

–       gunung-gemunung

2)      Pengulangan
Dasar Berafiks

Ada
tiga macam proses afiksasi dalam reduplikasi:

a)      Pertama, sebuah akar diberi afiks
dahulu, kemudian direduplikasi. Misalnya, pada akar lihat mula-mula
diberi prefiks me- menjadi melihat, kemudian baru diulang menjadi bentuk
melihat-melihat.

b)      Kedua, sebuah akar direduplikasi
dahulu, lalu kemudian diberi afiks. Misalnya, akar jalan mula-mula
diulang menjadi jalan-jalan, baru kemudian diberi prefiks ber- menjadi berjalan-jalan.

c)      Ketiga, sebuah akar diberi afiks dan
diulang secara bersamaan. Misalnya, pada akar minggu diberi prefiks ber-
dan proses pengulangan sekaligus menjadi bentuk berminggu-minggu.

2.2.  Puisi

Puisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
dapat diartikan sebagai ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra,
rima, serta penyusunan larik dan bait. Menurut Waluyo puisi adalah bentuk karya
sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan
disusun dengan mengonsentrasikan struktur fisik dan struktur batinnya (Waluyo
dalam Siswanto 2008, 108). Puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang
dipadatkan, dipersingkat, dan di beri irama dengan bunyi yang padu dan
pemilihan kata-kata kias atau imajinatif (Intisa 2015, 2).

Jadi
dapat diartikan bahwa puisi adalah bentuk ragam sastra yang bahasanya terikat
oleh irama, matra, rima, larik dan bait, tetapi bentuk kata dan bahasa harus
dipilih dan ditata dengan cermat sehingga puisi dapat mengungkapkan pikiran dan
perasaan penyair secara imajinatif serta dapat mengungkapkan makna khusus dalam
puisi.

 

BAB 3 PEMBAHASAN

 

1.   

2.   

3.   

3.1.  Bentuk Kata Ulang pada Puisi “Ada yang Tertinggal di
Belakangmu”

Ada
yang Tertinggal di Belakangmu

ada yang tertinggal di belakangmu

samar, menjelma bayangan purba

ada yang meronta-ronta di belakangmu

lindap, menjadi helaan udara

 

hujan beranjak ke luar jendela

deras: membasahi kenangan-kenangan

kita hanya bermuram: menunggu

 

ada yang tertunda di belakangmu

samar
dan lindap:

bersama

Berdasarkan analisis
pada puisi Ada yang Tertinggal di belakangmu terdapat dua bentuk kata ulang. Pertama,
pada bait pertama baris ke tiga yaitu meronta-ronta.
Kata ulang meronta-ronta termasuk
dalam bentuk pengulangan dasar berafiks, dimana sebuah akar diberi afiks dan diulang secara bersamaan. Pada
akar ronta diberi prefiks me- dan proses pengulangan sekaligus menjadi
bentuk meronta-ronta.

Kedua,
bentuk kata ulang pada bait ke dua baris ke dua yaitu kenangan-kenangan. Kata ulang kenangan-kenangan
ini termasuk dalam bentuk pengulangan utuh, bentuk dasar di ulang tanpa
melakukan perubahan bentuk fisik dari akar itu dan tidak berkombinasi dengan
proses perubahan afiks. Kata kenangan-kenangan
memiliki bentuk dasar kenangan. Kata
kenangan-kenangan juga termasuk ke
dalam bentuk reduplikasi sintaksis, dimana kata tersebut menghasilkan satuan
bahasa yang statusnya lebih tinggi daripada sebuah kata.

3.2.  Bentuk Kata Ulang pada Puisi “Osmosis”

Osmosis

aliran
itu merambah ke seluruh

darah
dan sel-sel tubuh

menjelma
anak sungai.

 

Kau
di sana

Sangat dekat.

Pada
puisi Osmosis terdapat bentuk kata ulang pada bait pertama baris ke dua yaitu sel-sel. Kata ulang ini termasuk ke
dalam bentuk pengulangan utuh, tanpa melakukan perubahan fonem dan memiliki
bentuk dasar yaitu sel. Kata sel-sel juga termasuk ke dalam bentuk reduplikasi
sintaksis, dimana kata tersebut menghasilkan satuan bahasa yang statusnya lebih
tinggi daripada sebuah kata.

3.3.  Bentuk Kata Ulang pada Puisi “Risalah Hujan”

Risalah
Hujan

/1/

besok hujan akan menemuimu

dengan rinai menetes satu-satu:

kesejukan kautsar

 

besok hujan akan menemuimu

dengan angin menerpa sepoi-sepoi:

ketenangan kama

 

aku akan menemuimu bersama:

hujan yang rindukan

awan

 

/2/

aku tahu engkau mengerti gelisahku

kegelisahan purbawi: Adam dan Hawa

pencairannya tanpa muara. Hampa

 

aku tahu engkau memahami rinduku

kerinduan surgawi: Aku dan Engkau

pemaknaannya tak bertepi. Sepi

Pada puisi Risalah
hujan terdapat dua bentuk kata ulang. Pertama, pada bait pertama baris ke dua
yaitu satu-satu. Kata ulang satu-satu ini termasuk pengulangan kata
utuh yang memiliki bentuk dasar kata yaitu satu.

Kedua, kata ulang
terdapat bada bait ke dua baris ke dua yaitu kata sepoi-sepoi. Sama seperti pada kata satu-satu, kata sepoi-sepoi
ini termasuk pengulangan kata utuh yang memiliki bentuk dasar kata yaitu sepoi.

BAB 4 PENUTUP

4.1. 
 Simpulan

Berdasarkan pembahasan
di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1.      Penggunaan
kata ulang pada puisi Ada yang Tertinggal di Belakangmu digunakan sebanyak dua
kata ulang. Pada bait pertama baris ke tiga terdapat kata ulang yaitu meronta-ronta. Dan pada bait ke dua
baris ke dua terdapat kata ulang kenangan-kenangan.

2.      Penggunaan
kata ulang pada puisi Osmosis digunakan hanya satu kali kata ulang, pada bait
pertama baris ke kedua yaitu kata ulang sel-sel.

3.      Penggunaan
kata ulang pada puisi Risalah Hujan digunakan sebanyak dua kata ulang. Pada bait
pertama baris ke dua terdapat kata ulang satu-satu.
Dan pada bait ke dua baris ke dua terdapat kata ulang sepoi-sepoi.