Kondisi terakhir penulis akan membahas mengenai kedudukan

Kondisi Kemasyarakatan Bangsa Arab Pra Islam Adhelia Refita PramesthiUniversitas Al Azhar IndonesiaFakultas Sastra Prodi [email protected] AbstrakMasa Jahiliyyah adalah masa dimana orang-orang berada dalam masa
kebodohan, yang dimaksud dengan kebodohan bukanlah dari segi pemikiran, tetapi
dalam segi agama, atau ketuhanan. Pada paper ini, akan dibahas mengenai kondisi
kemasyarakatan bangsa Arab sebelum Islam datang. Pertama, penulis akan
mengantarkan pembaca untuk mengenal terlebih dahulu istilah Jahiliyyah dan
kondisi tempat tinggal masyarakat Arab Jahiliyyah. Kedua, setelah membahas
kondisi tempat tinggal, sudah pasti dalam suatu masyarakat terjadi sebuah
peristiwa dan konflik. Ketiga, pada masyarakat Arab peran wanita sangat penting
di masa itu. Keempat, pernikahan pada masyarakat Arab memiliki tradisi yang
sangat baku. Dan yang terakhir penulis akan membahas mengenai kedudukan kabilah
dan keluarga dalam masyarakat Arab sangat penting karena mereka memiliki
solidaritas yang tinggi. Kata Kunci : Jahiliyyah,
Kondisi Geografis, Ghazw, Kelompok Bangsa Arab, Konflik, Pernikahan, Wanita,
Kabilah, Keluarga.    Pengantar            Istilah
Jahilliyyah berasal dari bahasa arab jahala. Artinya tidak mengetahui atau
tidak memiliki pengetahuan. Dalam Quran (al-Maidah, 5:50) istilah Jahilliyyah
mengacu pada masyarakat pra-Islam di Jazirah Arab. Mereka adalah masyarakat
yang dilanda ketidaktahuan, menolak tuntunan Allah SWT, tidak memiliki nilai
moral, tidak beradab, tidak bisa membaca atau menulis dan tidak taat kepada
hukum Allah SWT. (Mahmud Syakir, 1991:10; Malik Bennabi, 2009:65).1            Masyarakat Arab
Jahilliyyah tinggal di Semenanjung Arab pada periode setelah penghancuran
Ma’arib yang menyedihkan di Saba’ di tahun 300 Masehi. Durasi dari periode
Jahilliyyah ini adalah sekitar 310 tahun mulai dari tahun 300 masehi sampai 610
Masehi. Hal ini terwakili dalam Tabel 1. Masyarakat Arab yang hidup selama
periode ini dikenal sebagai Arab Jahilliyyah karena mereka tidak mengikuti
ajaran para Nabi dan Rasul sebelumnya seperti Nabi Sulaiman a.s., Nabi Ibrahim
a.s, Nabi Ismail a.s., Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s. dan lain-lain (Akashah
Ismail, 2003: 85).2

Tanggal

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Peristiwa

300 Masehi

Penghancuran Ma’rib Damp

570 Masehi

Kelahiran Nabi Muhammad SAW

610 Masehi

Awal Wahyu kepada Nabi
Muhammad SAW. Dari sinilah periode Islam dimulai

 Periode Jahilliyyah dianggap sebagai
periode gelap. Saat itu Arab Jahilliyyah tidak menyembah Allah SWT Yang Maha
Esa. Sebenarnya kebanyakan dari mereka menyembah berhala dan percaya pada
animisme. Arab Jahilliyyah Masyarakat hidup dengan semrawut karena tidak ada
Nabi atau Rasul dan kitab suci yang bisa dijadikan pedoman dalam kehidupan
mereka saat itu. Tata laku mereka yang baik hampir tidak ada, misalnya mereka
kejam, sombong dan keras kepala (Mahmud Syakir, 1991: 10). Dengan dimulainya
Islam di tahun 610 Masehi, masyarakat Arab Jahilliyyah mulai berubah Semua
aspek kehidupan mereka dibentuk oleh tasawuf Islam (worldview) yang diliputi
aspek aqidah (iman), ibadah (ibadah) dan akhlaq (tata krama).3 Kelompok Bangsa ArabMasyarakat Jahilliyyah Arab pada umumnya
terbagi menjadi dua kelompok, yaitu masyarakat Badui dan Hadhari (Beradab).
Orang Badui tinggal di lembah dan dataran tinggi, yang berada di tengah
Semenanjung Arab. Masyarakat Hadhari di sisi lain tinggal di sepanjang pesisir
Semenanjung Arab. Perbedaan dalam tempat bermukim secara tidak langsung
mempengaruhi berbagai cara hidup dan prestasi mereka. Selain itu, masyarakat Arab
Jahilliyyah terdiri dari berbagai klan dan suku. Situasi seperti itu memberikan
sejumlah efek negatif. Diantaranya adalah munculnya ‘asabiyyah (kedekatan
perasaan ekstrem dengan klan dan suku seseorang) dan biasanya mengakibatkan
permulaan perang di masyarakat. Munculnya ‘asabiyyah ini karena
didirikan yang didasarkan pada klan dan suku. Setiap klan tinggal bersama
kelompok mereka dan terikat untuk mematuhi peraturan yang ditetapkan oleh klan.
Hal ini semakin memperkuat rasa klan dalam anggota klan. Mereka siap membalas
dendam untuk menjaga harga diri dan klan mereka.   Ghazw            Salah satu
fenomena penting antar-suku di kawasan Semenanjung Arab adalah maraknya
peristiwa pembegalan, atau perompakan terhadap kafilah, atau perkemahan suku
lain. Ghazw atau yang biasa disebut serbuan kilat atau razia, bila tidak
dipandang organisasi bandit liar, dibentuk berdasarkan kondisi sosial dan
ekonomi kehidupan gurun hingga menjadi semacam institusi sosial. Razia dan
perompakan merupakan pondasi struktur ekonomi masyarakat Badui penggembala.4             Menurut
aturan-aturan main yang berlaku, ghazw merupakan sejenis olahraga
kebangsaan, tidak boleh ada pertumpahan darah dalam ghazw, kecuali dalam
keadaan yang sangat mendesak. Ghawz berhasil mengendalikan jumlah
orang-orang yang perlu diberi makan, meskipun tidak pernah bisa meningkatkan
jumlah ketersediaan cadangan makanan. Meskipun demikian, prinsip keramahtamahan
hingga taraf tertentu mampu meredam kebengisan praktik ghazw.5Pemicu Konflik Pada Masyarakat ArabKeadaan geografis masyarakat Arab,
mereka tinggal di tempat yang sangat panas dan kering. Dalam memastikan
kelangsungan hidup, setiap klan perlu mengatasi masalah secara kolektif.
Pemadatan terhadap perasaan klan telah mengakibatkan kehidupan Arab Jahilliyyah
menjadi kacau dan tidak teratur. Ini biasanya menjadi sumber permusuhan dalam
masyarakat Arab Jahilliyyah. Perang antara klan yang berbeda bisa ada bahkan
dengan alasan sepele. Perang al-Basus antara klan Bakr dan Rabi’ah menunjukkan
sifat masyarakat Jahilliyyah Arab yang merasa senang berkelahi satu sama lain.6 Lalu keadaan perebutan kepemimpinan
suatu kabilah, apabila puak suatu kabilah telah beranak pinang sedemikian
banyak, maka anggota puak kabilah tersebut bersaing untuk menduduki kursi
kepemimpinan dan kehormatan sekalipun masing-masing di antara mereka itu masih
satu kabilah. Persaingan ini telah menimbulkan permusuhan dan perseteruan yang
berakibat pertumpahan darah, seperti yang dialami dan terjadi antara Aus dengan
Khazraj, antara ‘Abasa dengan Dzubyan, antara Abd. Syams dengan Hasyim, dan
antara Rabi’ah dengan Mudhar.7 Peran Wanita Pada Zaman JahiliyyahSelanjutnya perempuan tidak diberi
status yang layak mereka dapatkan baik dalam keluarga maupun masyarakat. Mereka
menganggap anak perempuan saat mencapai usia penuh karena mengganggu mereka
dengan masalah sosial dan ekonomi. Dengan demikian Masyarakat Arab Jahilliyyah
bersedia menguburkan anak perempuan mereka yang masih hidup seperti yang lazim
di Tamin dan Asad klan.8Pada masa Jahiliyyah, kaum wanita
adalah kaum yang dapat menikmati arti kebebasan yang sangat besar. Mereka
adalah pihak yang biasa diajak bermusyawarah dalam urusan-urusan penting dan
diterima saran atau usulannya. Lebih dari itu, bahkan mereka juga bekerja sama
dengan kaum laki-laki dalam sekian banyak pekerjaan. Selanjutnya, dalam pandangan
masyarakat Arab dianggap tidak baik, jika seorang anak perempuan sudah memasuki
usia perkawinan atau janda muda namun tidak segera dinikahkan. Apabila
disegerakan menikah, guna menghindarkan si perempuan dari fitnah dan untuk memelihara
kehormatannya.9 Pernikahan            Masyarakat Arab
adalah suatu masyarakat yang memiliki sistem yang bersifat baku dalam
perkawinan. Mayoritas di antara mereka baru memperisteri wanita sesudah
mendapat restu dari keluarga pihak isteri. Begitu juga dalam tradisi mereka,
pada umumnya terlebih dahulu mengajak bermusyawarah dengan para puterinya dalam
urusan suami mereka. Dalam sistem perkawinan, mereka mengenal perceraian dan
perceraian ini berada di tangan para suami. Namun demikian dikenal juga adanya
syarat dari pihak isteri agar perceraian ini berada di tangannya.10Kedudukan Kabilah dan Keluarga dalam Masyarakat Arab            Bilamana suatu noda menimpa salah seorang anggota suatu kabilah,
maka noda tersebut menimpa seluruh anggota kabilahnya. Terkadang perselisihan
antara dua orang dari kabilah yang berbeda menjadi faktor penyebab timbulnya
perang antara dua kabilah tersebut, sekalipun penyebabnya dianggap sepele.11            Sedangkan saudara
dan keponakan dalam tradisi masyarakat Arab Jahiliyyah, mereka akan selalu ditolong
dan dibela, baik dalam posisi sebagai pihak yang benar maupun salah, baik
sebagai pihak yang teraniaya maupun yang berbuat aniaya.            Sikap ini
dilatarbelakangi oleh pandangan,bahwa seseoranga akan ternoda bila ia duduk
berpangku tangan dan tidak mau membela atau menolong saudara atau keponakannya.
Maka tidak boleh tidak, ia harus bangkit membela atau menolongnya sekalipun
saudara atau keponakannya itu sebagai pihak yang bersalah atau sebagai pihak
yang benar. Dalam tradisi masyarakat Arab Jahiliyyah sangat dikenal semboyan :12???? ???? ????? ?? ??????.Tolongnglah
saudaramu yang berbuat aniaya atau yang teraniaya.                 BIBLIOGRAFIHasan, Ibrahim Hasan. 2001. Sejarah dan Kebudayaan Islam Jilid 1.
Jakarta: Kalam Mulia.Hanapi, Mohd
Sukri. 2013. From Jahiliyyah To Islamic Worldview. Malaysia: Universiti
Sains Malaysia.Hitti, Philip
K.. 2005. History Of The Arabs. Jakarta: PT SERAMBI ILMU SEMESTA.

1 Dr.
Mohd Sukri Hanapi, “From Jahiliyyah to Islamic Worldview”, (Malaysia:
Universiti Sains Malaysia, 2013), 214.

2 Ibid.,
215.

3 Ibid.,
215.

4
Philip J. Hitti, History Of The Arabs, (Jakarta: PT SERAMBI ILMU
SEMESTA, 2005), 30.

5
Philip K. Hitti, op.cit. 31.

6 Ibid.,
216.

7 Dr.
Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudayaan Islam Jilid 1, (Jakarta:
Kalam Mulia,2001), 117.

8 Dr.
Mohd Sukri Hanapi, op.cit. 216.

9 Dr.
Hasan Ibrahim Hasan, op.cit. 114-115.

10 Ibid.,
115.

11 Ibid.,
117.

12
Ibid., 116.